Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

1/8/13

Usaha Kuliner Bakmi Jawa Mbah Dumuk

0 komentar

Usaha kuliner bakmi jawa “Mbah Dumuk” ini beralamatkan di jalan Magelang km 12, Wadas, Tridadi, Sleman. Layaknya sebuah wisata, bakmi jawa “Mbah Dumuk” merupakan salah satu dari beberapa koleksi kuliner di wilayah Jogjakarta yang pantas rasanya untuk dikunjungi jika berwisata di jogja. Suasana tempat yang sederhana dan terbuka menjadikan para pengunjung untuk mudah melakukan interaksi dengan para pembeli lain sekaligus melihat proses pembuatan masakan.
Read more...

Ngatijo Bubur Ayam Murah Merakyat

0 komentar

Adalah Ngatijo, yang akrab disapa pak Lencek di kalangan warga. Pria berusia 52 tahun menggauli bisnis bubur ayam sejak empat tahun lalu. Usaha cerdik ia peroleh saat melihat di Wates, kota tempat tinggalnya ini hanya menemui dua pedagang bubur ayam pagi dan salah satu pedagang hanya “ngetem” alias tidak berkeliling. Dan tak tanggung-tanggung ia mantap hingga kini mampu menafkahi keluarganya.
Read more...

1/1/13

Gulung Tikar dalam Kompetisi

0 komentar
“ jika ada modal yang cukup di lain waktu saya akan membuka usaha saya lagi tentunya dengan format yang berbeda”

Kondisi masyarakat yang kian mengalami eskalasi kultur kehidupan di era globalisasi ini, membuat peran pedagang kaki lima semakin termajinalkan. Sebut saja Subiyanto selaku pedagang kaki lima—kuliner—yang sudah gulung tikar sejak pekan lalu. Setelah dikonfirmasi di kediamannya, Sabtu (29/9 ) Subiyanto menuturkan sebenarnya masih ingin melanjutkan usahanya untuk menafkahi keluargannya, namun persaingan semakin ketat sehingga usaha Subiyanto tidak bisa menyaingi para pesaingnya. “ Saya sebenarnya ingin mempertahankan usaha saya hanya saja saya tidak bisa menyaingi para pesaing yang modalnya lima kali lipat diatas saya”, tuturnya.
Read more...

Bakso Andalan Kampus “Sawo Kecik”

0 komentar

          Berlokasi di ujung tempat parkir kampus “sawo kecik”, sebuah istilah untuk kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY), pak Min dengan gerobak baksonya mencari nafkah. Selama kurang lebih 23 tahun ia mengadu nasib ke Yogyakarta dari kota asalnya, Wonosari untuk mendapatkan kemapanan materi. Dari dulu pertama berjualan di pasar Beringharjo, kemudian sempat di alun-alun selatan hingga kini berkeliling dan menetap setiap sore di kampus Widya Mataram.
Read more...

12/25/12

Mendoan Monster

0 komentar

Mendoan, gorengan yang terbuat dari tempe berbalut tepung ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Makanan satu ini memang cocok menjadi teman makan nasi ataupun sebagai kudapan di saat santai. Meskipun demikian, menemukan cita rasa mendoan yang sesuai dengan lidah penikmatnya tak semudah kelihatannya. Hal ini pula yang dialami Dani Safitri, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengaku sering kali susah menemukan mendoan yang menurutnya enak di Jogja.
Read more...

Lek Man, Pelopor Kopi Joss

0 komentar
Seorang penyanyi harus selalu bolak-balik ke dapur rekaman agar dapat berkreasi dan menghasilkan karya. Namun seorang Lek Man harus bolak-balik ke dapur arangnya agar produk minumannya dapat terus dikenal dan dikenang orang. Kopi hangat yang diberi bara arang yang masih panas dan menimbulkan sound effect Joss. Itulah minuman andalan yang dibuat leluhur Lek Man dan menjadi pelopor adanya minuman Kopi Joss. Lek Man yang bernama asli Siswo Raharjo merupakan putra Mbah Pairo, pedagang angkringan pertama di Yogyakarta yang berjualan sejak tahun 1950-an.

Read more...

Warung WS, Eksis dari IAIN hingga UIN

0 komentar

Sudah kurang lebih 25 tahun Ibu Asih dan pak Jum mengadu nasib untuk berbisnis kuliner di sekitar kampus IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pahit-manis berdagang telah mereka rasakan. Dimulai dari berjualan di lingkungan kampus hingga 7 tahun ini baru pindah lokasi di utara SD Muhammadiyah Sapen.
          Mulai dari menjajakan premium dulu, hingga suatu hari karena putra-putrinya tumbuh besar dan tidak mampu untuk membagi waktu memasak, dan pak Jum sibuk sekerja, bu Asih berniat untuk menjajakan makanan. “Dulu saya berjualan oto, bakso sama nasi pecel”, tuturnya. Selama kurang lebih 19 tahun hingga kurun waktu 2004, warung makan bu Asih eksisi di lingkungan kampus.
          Dari berbagai jenis makanan, ia menuturkan bahwa warungnya yang pertama kali berdiri di lingkungan kampus IAIN Sunan Kalijaga sebelah kampus barat. “ Dulu kan soalnya bapak kerja bareng dosen bantu-bantu Diana, jadi jualan lebih mudah. Sekarang sudah Gak ada asrama dosen otomatis kami juga ikut pindah” ungkap bu Asih.
          Kini dengan berbagai keterbatasan yang ada, bu Asih dan pak Jum memulai usahanya lagi berjualan Mia ayam dan oto di belakang kampus. Sejak adanya tembok pagar yang tinggi dan jarang sekali pintu barat dibuka membuat omset kini daripada dulu ketika masih di dalam lingkungan kampus berbeda.
          Bu Asih mengatakan bahwa dari berjualan oto serta mie ayam ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus SMA. Dan dengan jasa kontrak lapak, penghasilannya kini tergolong pas-pasan. Untung semua anaknya telah dapat hidup mandiri. Pak Jum menambahkan bahwa ketika terjadi gempa 26 Mei 2006, mereka harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk membangun kembali usaha serta properti rumah mereka yang berada di kontrakan.
          Kini, setiap harinya rata-rata warung bu Asih mampu menjual sebanyak 3 kg beras dan 3kg Mie sebagai bahan baku pembuatan oto dan Mie ayam. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu Rp. 4.000,- / porsi untuk soto ayam dan Rp. 5.000,- untuk Mia ayam. Mereka berpesan untuk menjadi pengusaha harus ulet dan tabah, jangan mudah puas serta teliti untuk menyisihkan pendapatan untuk ditabung.

Oleh: Amri Muttaqin
Read more...

Es Siwalan, Primadona di Kantin Terpadu UIN Yogyakarta

0 komentar

11 Desember 2012, suasana cukup lengang, tidak seperti biasanya terjadi di kantin terpadu Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Cuaca yang cukup mendung mungkin menjadi salah satu penyebab kelengangan yang terjadi.
“Iya mas, musim hujan begini sedikit banyak berpengaruh terhadap penjualan”, ungkap Pramono. Pramono adalah penjual aneka minuman, mulai dari kopi, susu, es buah dan es siwalan. Pramono menjalani usaha di kantin terpadu UIN Sunan Kalijaga sejak bulan September yang lalu. Ia merupakan alumni dari fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
Pramono menjalani usaha berjualan es ini dengan santai. Ia mengaku tidak malu berjualan es meskipun menyandang gelar sebagai sarjana. Baginya, tidak ada yang rendah dari segala jenis pekerjaan. “Selama usaha yang dijalankan halal, tak ada yang memalukan”, lanjutnya, “Yang memalukan itu ialah menjadi pengangguran terdidik”, demikian ungkap pemuda asal kabupaten Klaten ini.
Yang menjadi primadona dalam usaha dagangnya ini adalah es siwalan. Rasanya yang khas dan menyegarkan membuat para penikmat es merasa kecanduan untuk meminum es siwalan ini. Dengan harga yang tergolong murah, hanya dua ribu rupiah per gelas. Nyaris setiap hari stock dagangan untuk es siwalan selalu habis.
Pria berambut gondrong ini menceritakan bahwa yang namanya usaha dagang tentunya pendapatan yang ia terima tidaklah tetap, tidak seperti pegawai negeri yang setiap bulannya menerima gaji tetap. “Tafsiran saya, kira-kira sehari dapat laba lima puluhan ribu mas”, ungkapnya dengan ramah. “Cukuplah mas kalau sekedar buat mencukupi hidup”, ungkapnya dengan senyum ramah. “Untuk tambah-tambah pemsukan, saya juga bisnis buku on line mas, rata-rata sebulan bisa laku 5-10 buku”, tuturnya.
            Menurut Pramono, di musim penghujan seperti sekarang ini, sedikit banyak berpengaruh terhadap omset penjualan. Cuaca yang yang tak menentu, membuat orang berpikir ulang untuk membeli es. “Iya mas, musim hujan begini sedikit banyak berpengaruh terhadap penjualan”, ungkapnya. “Mungkin karena takut jatuh sakit, takut pilek gitu kali ya mas”,tuturnya dengan ramah.


Oleh : Johan Saputro

ilustrasi : herdinbisnis.com

Read more...