Berawal dari kemauan dan
adanya peluang. Edy Sulis Purwanto Ningrat yang akrab di panggil mas Edy
memulai membuka usaha dengan nama Samara Collection. Menurut Edy selaku pendiri
dan pemilik usaha Samara collection ini
mengatakan, Samara Collection sejatinya perusahaan yang bergerak dibidang Ol Shop yang memiliki banyak neet work di Yogyakarta, bahkan
pendistribusiannya ke seluruh wilayah Indonesia.
Tinggalkan peluang Kerja di BI
Lek Man, Pelopor Kopi Joss
Abon Duri Bandeng
Sukses berbisnis setelah tinggalkan MLM
Demi Loundry, Tinggalkan Peluang Kerja di BI
Sempat mencoba melamar kerja di Bank Indonesia, sampai lolos 4 tahap menyisihkan 8.000 calon pegawai BI...More
Lek Man, Pelopor Kopi Joss
seorang Lek Man harus bolak-balik ke dapur arangnya agar produk minumannya dapat terus dikenal dan dikenang orang...More
Abon Duri Bandeng
Duri bandeng tenyata bisa digunakan untuk menyembuhkan gejala osteoporosis....More
Sukses berbisnis setelah tinggalkan MLM
Keinginan Ibuku agar aku cepat lulus kuliah kemudian melamar kerja. Padahal ...More
12/25/12
Warung WS, Eksis dari IAIN hingga UIN
Sudah kurang lebih 25 tahun Ibu Asih dan pak Jum mengadu
nasib untuk berbisnis kuliner di sekitar kampus IAIN (sekarang UIN) Sunan
Kalijaga Yogyakarta. Pahit-manis berdagang telah mereka rasakan. Dimulai dari berjualan
di lingkungan kampus hingga 7 tahun ini baru pindah lokasi di utara SD
Muhammadiyah Sapen.
Mulai dari menjajakan premium dulu,
hingga suatu hari karena putra-putrinya tumbuh besar dan tidak mampu untuk
membagi waktu memasak, dan pak Jum sibuk sekerja, bu Asih berniat untuk
menjajakan makanan. “Dulu saya berjualan oto, bakso sama nasi pecel”, tuturnya.
Selama kurang lebih 19 tahun hingga kurun waktu 2004, warung makan bu Asih
eksisi di lingkungan kampus.
Dari berbagai jenis makanan, ia
menuturkan bahwa warungnya yang pertama kali berdiri di lingkungan kampus IAIN
Sunan Kalijaga sebelah kampus barat. “ Dulu kan soalnya bapak kerja bareng
dosen bantu-bantu Diana, jadi jualan lebih mudah. Sekarang sudah Gak ada asrama
dosen otomatis kami juga ikut pindah” ungkap bu Asih.
Kini dengan berbagai keterbatasan yang
ada, bu Asih dan pak Jum memulai usahanya lagi berjualan Mia ayam dan oto di
belakang kampus. Sejak adanya tembok pagar yang tinggi dan jarang sekali pintu
barat dibuka membuat omset kini daripada dulu ketika masih di dalam lingkungan
kampus berbeda.
Bu Asih mengatakan bahwa dari
berjualan oto serta mie ayam ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus
SMA. Dan dengan jasa kontrak lapak, penghasilannya kini tergolong pas-pasan.
Untung semua anaknya telah dapat hidup mandiri. Pak Jum menambahkan bahwa
ketika terjadi gempa 26 Mei 2006, mereka harus merogoh kocek yang lebih dalam
untuk membangun kembali usaha serta properti rumah mereka yang berada di
kontrakan.
Kini, setiap harinya rata-rata warung
bu Asih mampu menjual sebanyak 3 kg beras dan 3kg Mie sebagai bahan baku
pembuatan oto dan Mie ayam. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu Rp.
4.000,- / porsi untuk soto ayam dan Rp. 5.000,- untuk Mia ayam. Mereka berpesan
untuk menjadi pengusaha harus ulet dan tabah, jangan mudah puas serta teliti
untuk menyisihkan pendapatan untuk ditabung.
Gulung Tikar Bangkit Modal
Dunia
bisnis sudah merajalela di Indonesia, namun hanya sedikit yang menggunakan
sistem syariah untuk menjalankan bisnisnya, inilah yang dialami Ahmad salah
satu mahasiswa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Ahmad mengaku, ia gulung
tikar dari usaha yang ia jalani yakni menjual pulsa berbasis syariah. Ia
menjalankan usahanya ini seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat itu.
Pulsa
syariah, iya itu adalah awal dari usaha Ahmad dengan modal jujur ia
memberanikan diri untuk berusaha syariah, untung tidak menjadi target baginya,
namun keikhlasan dan sistem syariah lah yang ia terapkan. Namun usaha itu tidak
lama ia jalani karena ia harus berpindah kota untuk melanjutkan kuliahnya, maka
ia gulung tikar usahanya.
Ahmad
mempunyai jiwa wirausaha sejak kecil hal ini terlihat saat ia gulung tikar saat
usaha pulsa syariahnya, ide-ide untuk berwirausaha ia dapatkan, salah satunya
ia membuka SPBU yaitu Susu Perah Belakang UII. Usaha ini ia tekuni dan sampai
saat ini ia memiliki beberapa outlite. Selain itu Ahmad juga mempunyai usaha
martabak imut, usaha ini ia tidak mengeluarkan modal karena ia mendapatkan
hibah untuk pengusaha muda.
Dengan
penghargaan yang ia dapatkan, modal itu disulap ia menjadi lahan bisnis yaitu
martabak imut. Usaha demi usaha ia jalani dengan tekun, teliti dan ikhlas.
Banyak sekali rintangan dan halangan yang ia hadapi dalam dunia bisnis, namun
motivasi Ahmad adalah berani masuk dunia bisnis, maka harus bisa memegang
komitmen dan berani menanggung resiko. Hal itu yang menjadikan Ahmad sampai
saat ini bisa dikatakan sebagai pengusaha muda yang sukses. Besar harapan Ahmad
kepada teman-teman yang mumpung masih muda, banyak peluang untuk menjadi
pengusaha dan banyak peluang untuk terjun di dunia bisnis, maka gali dan jajahi
dunia bisnis itu jangan takut dengan rugi dan jangan pesimis terlebih dahulu
sebelum mencobanya.
Oleh:
Mertylina Yoga Pradhani
Es Siwalan, Primadona di Kantin Terpadu UIN Yogyakarta
11 Desember 2012, suasana cukup lengang, tidak seperti biasanya terjadi di kantin terpadu Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Cuaca yang cukup mendung mungkin menjadi salah satu penyebab kelengangan yang terjadi.
“Iya mas,
musim hujan begini sedikit banyak berpengaruh terhadap penjualan”, ungkap
Pramono. Pramono adalah penjual aneka minuman, mulai dari kopi, susu, es buah
dan es siwalan. Pramono menjalani usaha di kantin terpadu UIN Sunan Kalijaga
sejak bulan September yang lalu. Ia merupakan alumni dari fakultas Tarbiyah UIN
Sunan Kalijaga.
Pramono
menjalani usaha berjualan es ini dengan santai. Ia mengaku tidak malu berjualan
es meskipun menyandang gelar sebagai sarjana. Baginya, tidak ada yang rendah
dari segala jenis pekerjaan. “Selama usaha yang dijalankan halal, tak ada yang
memalukan”, lanjutnya, “Yang memalukan itu ialah menjadi pengangguran
terdidik”, demikian ungkap pemuda asal kabupaten Klaten ini.
Yang menjadi
primadona dalam usaha dagangnya ini adalah es siwalan. Rasanya yang khas dan
menyegarkan membuat para penikmat es merasa kecanduan untuk meminum es siwalan
ini. Dengan harga yang tergolong murah, hanya dua ribu rupiah per gelas. Nyaris
setiap hari stock dagangan untuk es siwalan selalu habis.
Pria berambut
gondrong ini menceritakan bahwa yang namanya usaha dagang tentunya pendapatan
yang ia terima tidaklah tetap, tidak seperti pegawai negeri yang setiap
bulannya menerima gaji tetap. “Tafsiran saya, kira-kira sehari dapat laba lima puluhan ribu mas”,
ungkapnya dengan ramah. “Cukuplah mas kalau sekedar buat mencukupi hidup”,
ungkapnya dengan senyum ramah. “Untuk tambah-tambah pemsukan, saya juga bisnis
buku on line mas, rata-rata sebulan bisa laku 5-10 buku”, tuturnya.
Menurut
Pramono, di musim penghujan seperti sekarang ini, sedikit banyak berpengaruh
terhadap omset penjualan. Cuaca yang yang tak menentu, membuat orang berpikir
ulang untuk membeli es. “Iya mas, musim hujan begini sedikit banyak berpengaruh
terhadap penjualan”, ungkapnya. “Mungkin karena takut jatuh sakit, takut pilek
gitu kali ya mas”,tuturnya dengan ramah.
Oleh : Johan Saputro
ilustrasi : herdinbisnis.com
ilustrasi : herdinbisnis.com
Subscribe to:
Posts (Atom)