Showing posts with label | Amri Muttaqin. Show all posts
Showing posts with label | Amri Muttaqin. Show all posts

1/8/13

Ngatijo Bubur Ayam Murah Merakyat

0 komentar

Adalah Ngatijo, yang akrab disapa pak Lencek di kalangan warga. Pria berusia 52 tahun menggauli bisnis bubur ayam sejak empat tahun lalu. Usaha cerdik ia peroleh saat melihat di Wates, kota tempat tinggalnya ini hanya menemui dua pedagang bubur ayam pagi dan salah satu pedagang hanya “ngetem” alias tidak berkeliling. Dan tak tanggung-tanggung ia mantap hingga kini mampu menafkahi keluarganya.
Read more...

1/1/13

Bakso Andalan Kampus “Sawo Kecik”

0 komentar

          Berlokasi di ujung tempat parkir kampus “sawo kecik”, sebuah istilah untuk kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY), pak Min dengan gerobak baksonya mencari nafkah. Selama kurang lebih 23 tahun ia mengadu nasib ke Yogyakarta dari kota asalnya, Wonosari untuk mendapatkan kemapanan materi. Dari dulu pertama berjualan di pasar Beringharjo, kemudian sempat di alun-alun selatan hingga kini berkeliling dan menetap setiap sore di kampus Widya Mataram.
Read more...

12/25/12

Warung WS, Eksis dari IAIN hingga UIN

0 komentar

Sudah kurang lebih 25 tahun Ibu Asih dan pak Jum mengadu nasib untuk berbisnis kuliner di sekitar kampus IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pahit-manis berdagang telah mereka rasakan. Dimulai dari berjualan di lingkungan kampus hingga 7 tahun ini baru pindah lokasi di utara SD Muhammadiyah Sapen.
          Mulai dari menjajakan premium dulu, hingga suatu hari karena putra-putrinya tumbuh besar dan tidak mampu untuk membagi waktu memasak, dan pak Jum sibuk sekerja, bu Asih berniat untuk menjajakan makanan. “Dulu saya berjualan oto, bakso sama nasi pecel”, tuturnya. Selama kurang lebih 19 tahun hingga kurun waktu 2004, warung makan bu Asih eksisi di lingkungan kampus.
          Dari berbagai jenis makanan, ia menuturkan bahwa warungnya yang pertama kali berdiri di lingkungan kampus IAIN Sunan Kalijaga sebelah kampus barat. “ Dulu kan soalnya bapak kerja bareng dosen bantu-bantu Diana, jadi jualan lebih mudah. Sekarang sudah Gak ada asrama dosen otomatis kami juga ikut pindah” ungkap bu Asih.
          Kini dengan berbagai keterbatasan yang ada, bu Asih dan pak Jum memulai usahanya lagi berjualan Mia ayam dan oto di belakang kampus. Sejak adanya tembok pagar yang tinggi dan jarang sekali pintu barat dibuka membuat omset kini daripada dulu ketika masih di dalam lingkungan kampus berbeda.
          Bu Asih mengatakan bahwa dari berjualan oto serta mie ayam ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus SMA. Dan dengan jasa kontrak lapak, penghasilannya kini tergolong pas-pasan. Untung semua anaknya telah dapat hidup mandiri. Pak Jum menambahkan bahwa ketika terjadi gempa 26 Mei 2006, mereka harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk membangun kembali usaha serta properti rumah mereka yang berada di kontrakan.
          Kini, setiap harinya rata-rata warung bu Asih mampu menjual sebanyak 3 kg beras dan 3kg Mie sebagai bahan baku pembuatan oto dan Mie ayam. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu Rp. 4.000,- / porsi untuk soto ayam dan Rp. 5.000,- untuk Mia ayam. Mereka berpesan untuk menjadi pengusaha harus ulet dan tabah, jangan mudah puas serta teliti untuk menyisihkan pendapatan untuk ditabung.

Oleh: Amri Muttaqin
Read more...

12/4/12

Giarto Bengkel, The Power Of Word Of Mouth

0 komentar
Adalah Sugiharto, pria berusia 36 tahun yang akrab disapa Mbah Jenggot ini memulai usaha sampingan bengkel dan spesialis mekanik motor inden di rumahnya sejak 7 tahun yang lalu. Sebelum ia akhirnya di-PHK oleh Tunas, sebuah badan usaha penyalur motor Honda sekitar 4 bulan lalu, usaha yang ia rancang sendiri dirumahnya merupakan usaha sampingan.
Read more...

11/20/12

Andalkan Pelanggan Diantara Saingan

0 komentar

Sore hari saat orang  masih berduyun-duyun,  penuh sesak menjejali pasar Beringharjo. Tak tampak di sana orang yang santai. Semua bekerja. Kemudian kami tertarik dengan los kecil milik H.M. Agus Sukino menjajakan dagangan kain, batik dan bakal yang penuh sesak berjajar calon pembeli antre di sana. Lalu sejenak kami teretegun melihat betapa banyak orang mengantre di sana. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak hingga orang tua siap dengan kuli gendongnya.
Read more...

11/13/12

Kelana Usaha Hasilkan 4 juta Rupiah Per Hari

0 komentar

Kelana Muda, ini bukanlah nama agen wisata ataupun travel seperti yang anda kira namun ialah nama sebuah warung bakso. Kok bisa? Hal ini tidak terlepas dari perjalanan hidup pendirinya yakni Sugeng Handoyo. Sejak usianya masih terbilang cukup muda, ia telah berkelana dari Wonosari, Yogyakarta, dan akhirnya menetap di Wates. Berasal dari perjalanan hidupnya yang berusaha mencari kemapanan dari satu tempat ke tempat lainnya inilah, nama Kelana Muda muncul. 
Read more...

10/23/12

Usaha Angkring dengan Modal Utang

0 komentar
           Adalah Edi Putut, pria berusia 32 tahun memulai “judi” nasibnya membuka angkringan berlabel angkringan OB sekitar lima bulan yang lalu. Berbekal kemahirannya dalam memasak dan catering, ia bertekad untuk membuka angkringan. Dan dengan bermodalkan pinjaman sebesar lima juta rupiah ia beranjak membangun usaha ini.
Read more...

10/16/12

Sugeng Handono vs Kelana Muda

0 komentar
Sosok santai dan bersahaja itu adalah Sugeng Handono. Pria berusia 54 tahun asli Karangmojo, Gunung Kidul ini kami temui di kediamannya, tepatnya di jalan Pandean II Wates, Kulon Progo, Yogyakarta. “Gak ada bisnis yang instan”, begitulah celotehnya saat kami mulai berbincang mengenai bisnisnya. Diakui, bisnisnya kini telah meroket bahkan melebihi apa yang ia cita-citakan dulu. Dengan menikmati sebatang rokok Dji Sam Soe ditangannya ia mulai menceritakan bagaimana awal mula berkelana pada
Read more...

10/9/12

Perajin Gebleg, Bertahan di Tengah Keterbatasan

0 komentar
Pernah makan Gebleg? Makanan yang satu ini mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Karena memang makanan ini hanya ada di Kulon Progo. Dibuat dari bahan baku kelapa dan tepung serta diiolah mirip sejenis cilok. Ciri khas dari makanan ini adalah bentuknya yang selalu menyerupai angka delapan. Dengan digoreng dan disajikan garing bersama tempe bacem membuat gebleg menjadi camilan yang cocok dihidangkan pada malam hari.
Read more...

10/1/12

FUN COMM – FUN DESIGN

0 komentar
Nurrohman Fuad yang akrab disapa mas Nur, pria kelahiran Wates 37 tahun yang lalu ini memutuskan untuk berwiraswasta. Berbekal keterampilan desain grafis dan semangat dalam melihat peluang, ia berani menjamah dunia percetakan yang notabene persaingannya cukup ketat. Ia ingin membuktikan bahwa
Read more...