Adalah Ngatijo, yang akrab disapa pak
Lencek di kalangan warga. Pria berusia 52 tahun menggauli bisnis bubur ayam
sejak empat tahun lalu. Usaha cerdik ia peroleh saat melihat di Wates, kota
tempat tinggalnya ini hanya menemui dua pedagang bubur ayam pagi dan salah satu
pedagang hanya “ngetem” alias tidak berkeliling. Dan tak tanggung-tanggung ia
mantap hingga kini mampu menafkahi keluarganya.
Tinggalkan peluang Kerja di BI
Lek Man, Pelopor Kopi Joss
Abon Duri Bandeng
Sukses berbisnis setelah tinggalkan MLM
Demi Loundry, Tinggalkan Peluang Kerja di BI
Sempat mencoba melamar kerja di Bank Indonesia, sampai lolos 4 tahap menyisihkan 8.000 calon pegawai BI...More
Lek Man, Pelopor Kopi Joss
seorang Lek Man harus bolak-balik ke dapur arangnya agar produk minumannya dapat terus dikenal dan dikenang orang...More
Abon Duri Bandeng
Duri bandeng tenyata bisa digunakan untuk menyembuhkan gejala osteoporosis....More
Sukses berbisnis setelah tinggalkan MLM
Keinginan Ibuku agar aku cepat lulus kuliah kemudian melamar kerja. Padahal ...More
Showing posts with label | Amri Muttaqin. Show all posts
Showing posts with label | Amri Muttaqin. Show all posts
1/8/13
1/1/13
Bakso Andalan Kampus “Sawo Kecik”
Berlokasi di ujung tempat parkir
kampus “sawo kecik”, sebuah istilah untuk kampus Universitas Widya Mataram
Yogyakarta (UWMY), pak Min dengan gerobak baksonya mencari nafkah. Selama
kurang lebih 23 tahun ia mengadu nasib ke Yogyakarta dari kota asalnya,
Wonosari untuk mendapatkan kemapanan materi. Dari dulu pertama berjualan di
pasar Beringharjo, kemudian sempat di alun-alun selatan hingga kini berkeliling
dan menetap setiap sore di kampus Widya Mataram.
12/25/12
Warung WS, Eksis dari IAIN hingga UIN
Sudah kurang lebih 25 tahun Ibu Asih dan pak Jum mengadu
nasib untuk berbisnis kuliner di sekitar kampus IAIN (sekarang UIN) Sunan
Kalijaga Yogyakarta. Pahit-manis berdagang telah mereka rasakan. Dimulai dari berjualan
di lingkungan kampus hingga 7 tahun ini baru pindah lokasi di utara SD
Muhammadiyah Sapen.
Mulai dari menjajakan premium dulu,
hingga suatu hari karena putra-putrinya tumbuh besar dan tidak mampu untuk
membagi waktu memasak, dan pak Jum sibuk sekerja, bu Asih berniat untuk
menjajakan makanan. “Dulu saya berjualan oto, bakso sama nasi pecel”, tuturnya.
Selama kurang lebih 19 tahun hingga kurun waktu 2004, warung makan bu Asih
eksisi di lingkungan kampus.
Dari berbagai jenis makanan, ia
menuturkan bahwa warungnya yang pertama kali berdiri di lingkungan kampus IAIN
Sunan Kalijaga sebelah kampus barat. “ Dulu kan soalnya bapak kerja bareng
dosen bantu-bantu Diana, jadi jualan lebih mudah. Sekarang sudah Gak ada asrama
dosen otomatis kami juga ikut pindah” ungkap bu Asih.
Kini dengan berbagai keterbatasan yang
ada, bu Asih dan pak Jum memulai usahanya lagi berjualan Mia ayam dan oto di
belakang kampus. Sejak adanya tembok pagar yang tinggi dan jarang sekali pintu
barat dibuka membuat omset kini daripada dulu ketika masih di dalam lingkungan
kampus berbeda.
Bu Asih mengatakan bahwa dari
berjualan oto serta mie ayam ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus
SMA. Dan dengan jasa kontrak lapak, penghasilannya kini tergolong pas-pasan.
Untung semua anaknya telah dapat hidup mandiri. Pak Jum menambahkan bahwa
ketika terjadi gempa 26 Mei 2006, mereka harus merogoh kocek yang lebih dalam
untuk membangun kembali usaha serta properti rumah mereka yang berada di
kontrakan.
Kini, setiap harinya rata-rata warung
bu Asih mampu menjual sebanyak 3 kg beras dan 3kg Mie sebagai bahan baku
pembuatan oto dan Mie ayam. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu Rp.
4.000,- / porsi untuk soto ayam dan Rp. 5.000,- untuk Mia ayam. Mereka berpesan
untuk menjadi pengusaha harus ulet dan tabah, jangan mudah puas serta teliti
untuk menyisihkan pendapatan untuk ditabung.
12/4/12
Giarto Bengkel, The Power Of Word Of Mouth
Adalah Sugiharto, pria berusia 36
tahun yang akrab disapa Mbah Jenggot ini memulai usaha sampingan bengkel dan
spesialis mekanik motor inden di rumahnya sejak 7 tahun yang lalu. Sebelum ia
akhirnya di-PHK oleh Tunas, sebuah badan usaha penyalur motor Honda sekitar 4
bulan lalu, usaha yang ia rancang sendiri dirumahnya merupakan usaha sampingan.
11/20/12
Andalkan Pelanggan Diantara Saingan
Sore hari saat orang masih berduyun-duyun, penuh sesak menjejali pasar Beringharjo. Tak
tampak di sana orang yang santai. Semua bekerja. Kemudian kami tertarik dengan
los kecil milik H.M. Agus Sukino menjajakan dagangan kain, batik dan bakal yang
penuh sesak berjajar calon pembeli antre di sana. Lalu sejenak kami teretegun
melihat betapa banyak orang mengantre di sana. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak
hingga orang tua siap dengan kuli gendongnya.
11/13/12
Kelana Usaha Hasilkan 4 juta Rupiah Per Hari
Kelana Muda, ini bukanlah nama agen
wisata ataupun travel seperti yang anda kira namun ialah nama sebuah warung
bakso. Kok bisa? Hal ini tidak terlepas dari perjalanan hidup pendirinya yakni Sugeng
Handoyo. Sejak usianya masih terbilang cukup muda, ia telah berkelana dari
Wonosari, Yogyakarta, dan akhirnya menetap di Wates. Berasal dari perjalanan
hidupnya yang berusaha mencari kemapanan dari satu tempat ke tempat lainnya
inilah, nama Kelana Muda muncul.
10/23/12
Usaha Angkring dengan Modal Utang
Adalah
Edi Putut, pria berusia 32 tahun memulai “judi” nasibnya membuka angkringan
berlabel angkringan OB sekitar lima bulan yang lalu. Berbekal kemahirannya
dalam memasak dan catering, ia bertekad untuk membuka angkringan. Dan dengan
bermodalkan pinjaman sebesar lima juta rupiah ia beranjak membangun usaha ini.
10/16/12
Sugeng Handono vs Kelana Muda
Sosok santai dan bersahaja itu adalah Sugeng Handono.
Pria berusia 54 tahun asli Karangmojo, Gunung Kidul ini kami temui di
kediamannya, tepatnya di jalan
Pandean II Wates, Kulon Progo, Yogyakarta. “Gak ada bisnis yang instan”,
begitulah celotehnya
saat kami mulai berbincang mengenai
bisnisnya. Diakui, bisnisnya kini telah meroket
bahkan melebihi apa yang ia cita-citakan dulu. Dengan menikmati sebatang rokok Dji Sam Soe ditangannya ia mulai
menceritakan bagaimana awal mula berkelana pada
10/9/12
Perajin Gebleg, Bertahan di Tengah Keterbatasan
Pernah makan Gebleg? Makanan yang satu ini mungkin
masih terdengar asing di telinga kita. Karena memang makanan ini hanya ada di
Kulon Progo. Dibuat dari bahan baku kelapa dan tepung serta diiolah mirip sejenis
cilok. Ciri khas dari makanan ini adalah bentuknya yang selalu menyerupai angka
delapan. Dengan digoreng dan disajikan garing
bersama tempe bacem membuat gebleg
menjadi camilan yang cocok dihidangkan pada malam hari.
10/1/12
FUN COMM – FUN DESIGN
Nurrohman Fuad yang akrab disapa mas Nur, pria kelahiran Wates 37 tahun yang lalu ini memutuskan untuk berwiraswasta. Berbekal keterampilan desain grafis dan semangat dalam melihat peluang, ia berani menjamah dunia percetakan yang notabene persaingannya cukup ketat. Ia ingin membuktikan bahwa
Subscribe to:
Posts (Atom)