Kualitas
bagus tidak harus selalu mahal. Mirza Akbar dan Arum Dewi Suci membuktikan hal
tersebut lewat produk mereka, yaitu ice cream yang di beri label ‘Yogya Ice
Cream’. Berlokasi di Jl. Affandi, Gang Kantil, Pelem Kecut No. 8 Yogyakarta,
Yogya Ice Cream mampu memproduksi hingga 3-4 ribu cup es krim setiap harinya
dengan menghabiskan 240 liter susu.
“Untuk penjualannya kami bisa menjual hingga 500 sampai 1000 cup es krim
per harinya,” kata Mirza
Tinggalkan peluang Kerja di BI
Lek Man, Pelopor Kopi Joss
Abon Duri Bandeng
Sukses berbisnis setelah tinggalkan MLM
Demi Loundry, Tinggalkan Peluang Kerja di BI
Sempat mencoba melamar kerja di Bank Indonesia, sampai lolos 4 tahap menyisihkan 8.000 calon pegawai BI...More
Lek Man, Pelopor Kopi Joss
seorang Lek Man harus bolak-balik ke dapur arangnya agar produk minumannya dapat terus dikenal dan dikenang orang...More
Abon Duri Bandeng
Duri bandeng tenyata bisa digunakan untuk menyembuhkan gejala osteoporosis....More
Sukses berbisnis setelah tinggalkan MLM
Keinginan Ibuku agar aku cepat lulus kuliah kemudian melamar kerja. Padahal ...More
12/4/12
Menjadikan Tantangan Sebagai Motivasi Bisnis
Dewasa ini, media apapun bisa digunakan untuk
berbisnis, salah satunya ialah media elektronik. Memang benar adanya bila zaman sekarang ini disebut sebagai era digital. Dengan mudah dan murah,
banyak orang yang memilih jasa internet untuk mengenalkan barang yang dijualnya. Caranya ialah dengan mengiklankan barang yang dijual dengan menggunakan jasa internet untuk
mengenalkan barang kepada khalayak. Hal itu pula yang dilakukan oleh Riri dalam menjalankan usaha online shop miliknya. Usaha yang ia rintis bersama
sepupunya, Rechti, ini mulai berdiri pada bulan Februari 2012 menggunakan
jejaring sosial facebook dengan nama akun Kireina Hijabshop.
Usahanya ini
berawal dari perhatiannya
yang sangat besar pada para pengguna hijab. Ia melihat masih banyak orang yang masih bingung menggunakan
hijab. Dengan mendirikan Hijabshop ini, Riri dan Rechti ingin memotivasi para sahabat
Kireina (sebutan untuk para langganannya/follower) yang belum berhijab untuk menggunakan
hijab. “Dengan berhijab, kita bisa tampil cantik dan modis” begitulah motivasi
yang sering dikatakan Riri. Tidak hanya memotivasi dan memberi dorongan, Riri
juga memberikan tutorial hijab agar lebih banyak wanita yang tertarik dan terinspirasi kemudian bergabung menjadi sahabat Kireina.
Menurut Riri
bisnis
online itu cukup hemat tidak membutuhkan modal banyak. Modal yang dibutuhkan hanya sebatas untuk biaya akses internet dan biaya pengiriman barang. Adapun barang-barang yang dijual Riri hanya dia pajang di
toko onlinenya dan dia tidak membuka outlet di rumah. Sehingga otomatis pembelinya bisa lintas daerah dan bahkan lintas provinsi.
Pendapatan yang Riri dapatkan
dari usaha online shop ini cukup lumayan, dengan
omset sekitar
enam sampai tujuh juta rupiah per bulannya, ia dapat meraup keuntungan sekitar 30%. Hal ini sudah termasuk cukup memuaskan bagi
Riri yang pekerjaannya
sebagai ibu
rumah tangga dan Rechti yang merupakan seorang hakim.
Menurut
Riri dalam menjalankan usaha itu memang harus ada tantangannya, karena dari
tantangan itu maka seorang pengusaha dapat belajar, dan terus mencoba. Seperti
yang dia katakan “Resep sukses itu adalah berani mencoba, jika gagal coba lagi
dan lagi.”
Inilah yang memotivasinya untuk konsisten menjalankan usaha online shop. Riri juga cukup bijak dalam menanggapi kompetitor. Baginya,
kompetitor adalah sebagai media
pembelajaran. Dia bisa berkaca dari online shop lain, apa yang kurang dari
online shopnya, dan menjadi inspirasi untuk menciptakan produk baru. Oleh
karena itu Riri menganggap bahwa tantangan merupakan motivasi dia untuk terus berkarya dalam dunia bisnis.
Lepas Yang Lama, Cari Yang Baru
Di era globalisasi ini kerap kita
jumpai jejaring sosial menjadi sarana
online shopping atau jual beli melalui dunia maya. Seperti melalui facebook,
twitter, BBM, kaskus hingga jejaring sosial khusus jual beli barang seperti
toko bagus. Namun maraknya jual beli melalui online shopping
ini masih dihantui rasa kurang percaya konsumen sehingga terkadang konsumen
enggan untuk membeli barang melalui OL
SHOP.
Meskipun masih dihantui kurang adanya
kepercayaan konsumen terhadap situs jual beli online, hal tersebut tidak
menyurutkan niat Susetyo Adi, penjual berbagai macam sepeda melalui OL SHOP. Ia
memilih berjualan OL SHOP melalui toko
bagus, jejaring sosial khusus jual
beli barang tersebut ia rasa telah memiliki kepercayaan dari konsumen karena
setiap beriklan di situs tersebut harus login terlebih dahulu untuk mendapatkan
id member berupa username dan password. Selain melalui toko
bagus Susetyo Adi juga memasarkan
sepeda-sepeda yang ia jual melaui kaskus. Bagi Adi yang telah lama menjadi kaskuser (pengguna
situs kaskus) akan semakin memudahkannya untuk menjual barang dagangannya karena biasanya pengguna lama lebih dipercaya di
forum tersebut.
Usaha Adi ini berawal dari hobi gowes yang ia sukai. Hobi ini membuatnya membeli
banyak sepeda sehingga ia memiliki tiga jenis sepeda di rumah. Semakin hari, berbagai jenis sepeda model baru yang ditemuinya pun selalu ingin dibelinya.
Tetapi, ketika ia mengingat
budget kebutuhan pokoknya yang
lebih utama, ia
mulai berpikir bagaimana cara untuk membeli sepeda kesukaannya. Akhirnya ia memiliki ide
untuk membeli berbagai jenis sepeda kesukaanya kemudian ia harus rela
melepas sepeda yang pernah dia gunakan dan menjual sepeda itu.
Barang yang ia miliki
terhitung masih baru karena setiap sebulan sekali bahkan kurang dari sebulan, dia menginginkan barang
baru.
Membeli yang baru, lalu melepas yang lama. Walaupun keuntungan yang ia dapatkan selama
empat bulan berjalannya bisnis online ini tidak banyak, ia juga tidak rugi
karena ia tidak pernah tombok atau rugi bandar. Ia tidak pernah merasa rugi karena menurutnya ia bisa
menyalurkan hobi dan
juga bisa mendapatkan
keuntungan.
Oleh: Monica Merly Pangalila
Giarto Bengkel, The Power Of Word Of Mouth
Adalah Sugiharto, pria berusia 36
tahun yang akrab disapa Mbah Jenggot ini memulai usaha sampingan bengkel dan
spesialis mekanik motor inden di rumahnya sejak 7 tahun yang lalu. Sebelum ia
akhirnya di-PHK oleh Tunas, sebuah badan usaha penyalur motor Honda sekitar 4
bulan lalu, usaha yang ia rancang sendiri dirumahnya merupakan usaha sampingan.
Manfaatkan Program Dikti, Gunawan jadi Suplier Mie Jiting
Berawal dari
program kewirausahaan yang ditawarkan oleh direktorat Perguruan Tinggi, Gunawan
Saputro menjajaki karir sebagai pengusaha. “Adanya program kewirausahaan dari
Dikti memantik semangatku untuk menjajal berdagang mie ‘jiting’ di kawasan
lembah UGM”, ungkap pemuda kelahiran 1989 ini.
Gunawan sebagai
mahasiswa Universitas Gadjah Mada melihat peluang untuk berjualan makanan
ringan di kawasan lembah UGM sangatlah besar. Oleh karena itu, ketika ia
membuka website dikti yang menginformasikan adanya beasiswa bagi mahasiswa
untuk berwirausaha, Gunawan tak menyia-nyiakannya. “Setelah membaca informasi
dari website dikti itu, lantas saya mencoba membuat proposal bisnis plan”,
ungkapnya. “Hal ini didasari karena peluang berjualan makanan ringan di lembah
UGM saat Sunday morning (sunmor) sepertinya sangat menjanjikan”.
“Saya tidak
sendirian membuat proposal, saya membentuk tim yang terdiri dari tiga orang”,
lanjutnya, “tim saya bentuk atas dasar kesamaan daerah, biar gampang
koordinasinya”, tambah alumni diploma tiga geodesi UGM ini. Proposal yang
mereka ajukan tanpa disangka-sangka diterima dan disetujui oleh Dikti. Menurut
Gunawan, sebenarnya proposal yang ia tawarkan bukanlah proposal bisnis yang ‘baru’
dan ‘inovatif’, Gunawan menjelaskan bahwa yang lebih ia tekankan dalam proposal
itu adalah kebersinambungan usaha dan peluang bertahannya. “Memfokuskan pada
keberlangsungan usaha itu, kami—Gunawan bersama tim—memilih usaha dengan
berdagang ‘mie jiting’ saat Sunmor, dan
sekaligus menjadi supplier mie ‘jiting’ untuk kawasan kantin-kantin di
Jogja”, ungkapnya.
Saat ini,
Gunawan telah memetik hasil dari perjuangannya. Setiap minggu pagi ia bersama
teman-temannya berjualan mie ‘jiting’ ini di kawasan lembah UGM. “Semua
pedagang yang berdagang mie jiting di semua titik di kawasan Sunmor itu adalah
dagangan saya”, ungkapnya sambil tersenyum bersahabat. “Kami memulai berjualan
sekitar jam setengah enam pagi, ada lima
titik kami berjualan, dan kira-kira tiap titik bisa menghabiskan sampai 12
paket”, jelasnya. “Satu paket isinya ada 50 plastik kecil, yang per plastic
harganya seribu rupiah, sedang bila membeli satu paket harganya kena empat
puluh ribu rupiah”, lanjutnya, “Jadi kira-kira setiap minggunya, dari berjualan
di Sunmor ini kami dapat meraup pendapatan kotor kira-kira dua sampai dua
setengah juta, belum lagi pendapatan dari hasil titip di kantin-kantin di
daerah Jogja”,demikian ungkap pemuda lulusan SMK ini. “Nanti dari hasil itu,
kami potong sekitar dua ratus lima
puluh ribu untuk upah teman-teman yang membantu berdagang”, jelasnya.
Oleh : Johan Saputro
Wisnu Bertahan Hidup Dengan Susu Kedelai
Wisnu.
Laki-laki kelahiran Powordadi 19 Desember 1987 tampak sibuk dengan jualan susu
kedelainya. Dalam waktu sesaat penulis meminta waktunya untuk mewawancarainya. Saat
wawancara berlangsung, Wisnu mengungkapkan,
berjualan susu kedelai sudah berlangsung lama. Terhitung sejak tahun 2007
sampai sekarang. Ia saat ini sudah memiliki pelanggan tetap. “ sudah cukup lama
mas, kira-kira dari tuhun 2007 sampai sekarang”, ungkapnya.
Dalam
menjajakan susu kedelainya , Wisnu hanya membutuhkan waktu di pagi hari saja.
Menurutnya, seusai menunaikan sholat
shubuh langsung berangkat mengambil susu kedelai di juragannya, tepatnya di Jl.
Munggur No. 39, kemudian menjajakannya ke rumah-rumah pelanggan tetapnya. Setelah
ditanya lebih lanjut kenapa ia dalam menjajakan susu kedelai jualannya di pagi
hari, menurutnya, susu kedelai itu hangat jadi sangat cocok di minum di pagi
hari dan semua pelanggannya cukup senang dengan adanya susu kedelai ini,
tambahnya.
Setiap
kali menjajakan susu kedelai jualannya, dalam sehari biasanya menghabiskan
50-75 bungkus susu. Harganya pun beragam, mulai dari Rp. 1500-Rp. 2500
tergantung dari bahan campuran susunya. Harga paling tinggi menurut Wisnu susu
kedelai yang dicampur madu. “ ya paling mahal yang da campuran madunya mas
mengingat madu sekarang mahal”, tuturya.
Selain
jualan susu kedelai, Wisnu mengabdikan
dirinya di masjid At-Taqwa Balapan Ksatrian Yogyakarta dan aktif membantu kegiatan-kegiatan masjid seperti pengajian, tahlilan dan kegiatan
lainnya. Bisa dikata Wisnu hidup sebatang kara alias Broken Home di tempat kelahirannya. Oleh karenanya hidupnya saat
ini diabdikan di masjid untuk melayani umat.
Walaupun
pekerjaan Wisnu hanya sekedar jualan susu dan mengabdikan diri di masjid dalam
setiap harinya, Wisnu tidak pernah mengeluh. Bagi Wisnu kenyataan ini adalah
tantangan yang harus di tunaikan serta harus di syukuri sepenuh hati, sebab
dengan bersyukur sekecil apa pun rizqi yang di berikan tuhan kepadanya akan
menjadi berkah. “ kenyataan ini adalah tantangan mas dan saya harus tabah
menghadapinya, selain itu saya juga bersyukur karena dengan bersyukur
insyaallah akan menjadi berkah sekecil apa pun rizqi yang diberikan tuhan
kepada saya”, tuturnya.
Dalam sehari, Wisnu bisa menyisihkan sebagian
hasil jualannya untuk di tabung. Menurutnya, hasil bersihnya dalam sehari bisa
sampai 25 ribu sampai 50 ribu. Dengan uang tabungannya. Kini Wisnu telah
membeli sepeda ontel untuk mempermudah dalam menjajakan jualan susunya.
Selain
tabungannya di belikan sepeda ontel dan kebutuhan hidup lainnya. Wisnu
bercita-cita ingin mandiri dalam berbisnis alias tanpa harus bergantung kepada
juragannya. Wisnu menilai, dengan mandiri pastinya bisa sesuka hati dalam
menjajakan jualannya serta bisa mendapatkan hasil yang berlipat ganda. Saat ini
Wisnu masih dalam proses mengumpulkan hasil jerih payahnya untuk mewujudkan
impiannya itu. Wisnu berharap, di awal tahun baru 2013 hasil tabungannya itu sudah
cukup untuk mewujudkan impiannya. “ Harapan saya semoga awal tahua 2013 besok,
tabungan saya selama ini bisa mewujudkan impian saya”, harapannya sambil
menutup wawancara pada kesempatan itu.[]
Reporter : Abd
Gafur
Subscribe to:
Posts (Atom)

